Penelitian Mahasiswa ITB AD di Trenggalek, Pertanian Berbasis Kearifan Lokal Lebih Menguntungkan

oleh
oleh
Penelitian Mahasiswa ITB AD di Trenggalek, Pertanian Berbasis Kearifan Lokal Lebih Menguntungkan
Penelitian Mahasiswa ITB AD di Trenggalek, Pertanian Berbasis Kearifan Lokal Lebih Menguntungkan

TRENGGALEK, bioztv.id – Hasil penelitian mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan di Kabupaten Trenggalek telah ungkap fakta baru. Sesuai hasil analisis perbandingan biaya dan pendapatan antara sistem pertanian berbasis kemandirian dan kearifan lokal, dengan sistem pertanian konvensional. diketahui jika pertanian dengan sistem kearifan lokal lebih menguntungkan.

Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa dari Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, Tri Yuniati, dengan lokasi kegiatan di Gapoktan Sedono Makmur, Desa WOnanti, Kecamatan Gandusari, kabupaten Trenggalek

“Gapoktan Sedono Makmur merupakan gabungan dari empat kelompok tani, yaitu Poktan Guyub Rukun, Poktan Tani Makmur I, Poktan Tani Makmur II, dan Poktan Sri Sedono.” Kata Tri Yuniatti

Luas kepemilikan lahan rata-rata petani di desa ini adalah antara 100 hingga 150 ru atau sekitar 1400 hingga 2100 m². Sistem pengairan sawah di desa ini juga cukup menantang, dengan hanya 24 hektar dari 150 hektar sawah yang mendapatkan irigasi teknis, sementara sisanya mengandalkan hujan dan air tanah.

Menurut Tri Yuniati, Petani di Desa Wonoanti yang awalnya menggunakan sistem pertanian konvensional sering kali menghadapi biaya produksi yang tinggi, terutama untuk pembelian pupuk kimia, pestisida, dan bibit unggul. Ketidakstabilan harga hasil panen juga menambah tantangan bagi mereka.

“Petani seringkali merasa tertekan dengan biaya produksi yang tinggi dan fluktuasi harga hasil panen. Ini membuat perencanaan keuangan dan investasi jangka panjang menjadi sulit.”

Lebih lanjut Tri Yuniati menjelaskan, Penelitian ini menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi masalah tersebut, antara lain dengan melakukan analisis komponen biaya dan pendapatan, mengevaluasi efisiensi biaya, dan mengukur dampak ekonomi jangka panjang.

“Dengan melakukan analisis perbandingan biaya dan pendapatan antara kedua sistem pertanian, petani dapat memperoleh wawasan yang jelas tentang keuntungan dan kerugian masing-masing sistem”imbuhnya.

Penelitian ini juga akan membantu mereka membuat keputusan yang lebih informasional dan beralih ke sistem pertanian yang lebih efisien, berkelanjutan, dan menguntungkan. sesuai hasil penelitian, ditemukan jika biaya produksi pada sistem pertanian konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pertanian berbasis kemandirian dan kearifan lokal. Berikut adalah beberapa hasil yang diperoleh:

Biaya produksi per hektar pada sistem pertanian konvensional mencapai Rp 11.075.000, sedangkan pada sistem pertanian berbasis kemandirian hanya Rp 8.500.000.

Pendapatan kotor dari hasil panen gabah pada sistem konvensional mencapai Rp 30.600.000, sedangkan pada sistem mandiri mencapai Rp 29.150.000.

Laba bersih yang diperoleh dari sistem pertanian konvensional adalah Rp 19.525.000, sementara dari sistem mandiri mencapai Rp 20.650.000.

Tri Yuniati menambahkan, Sistem pertanian berbasis kemandirian tidak hanya lebih efisien dalam hal biaya produksi, tetapi juga lebih menguntungkan secara ekonomi jangka panjang. Kegiatan ini diharapkan memberikan manfaat bagi semua stakeholder yang terlibat.

“Manfaatnya, petani mendapatkan wawasan mengenai dampak pelaksanaan sistem pertanian mandiri pada perekonomian mereka, sementara pemerintah desa dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai dasar untuk program pembangunan desa di masa mendatang,” jelas Tri.

Dengan hasil penelitian ini, diharapkan petani di Desa Wonoanti dapat lebih memahami manfaat dari sistem pertanian berbasis kemandirian dan kearifan lokal, serta dapat mengaplikasikannya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Kami berharap penelitian ini dapat menjadi acuan bagi petani lain untuk beralih ke sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan,” pungkas Tri Yuniati.(CIA)

Views: 1