GUNUNG MAS , bioztv.id – Berkat inisiatif mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta. Kisah inspiratif pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan pekarangan telah terukir. Kelompok Dasawisma “HAPAKAT” Desa Tumbang Samui, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dengan semangat kebersamaan, telah mengubah pekarangan rumah menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan.
Didirikan pada tahun 2019, Kelompok Dasawisma “HAPAKAT” bercita-cita untuk memberdayakan keluarga dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun, berbagai kendala menghambat kemajuan mereka, seperti kurangnya kepengurusan yang aktif, pola pikir tradisional, dan minimnya informasi dan inovasi.
“Keberadaan Kelompok Dasawisma ‘HAPAKAT’ bertujuan untuk mendukung kegiatan Pemerintah Desa dalam pemberdayaan masyarakat dan pembinaan keluarga,” ujar Ketua Kelompok Dasawisma “HAPAKAT”, Susi H Banjar.
Melalui proyek independen “Kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)”, mahasiswa ITB AD, Wawandri, telah menjalin kemitraan dengan Kelompok Dasawisma “HAPAKAT” untuk meningkatkan pemanfaatan lahan pekarangan.
Sesuai hasil analisis situasi, kegiatan pemberdayaan masyarakat tidak selalu berjalan mulus. Salah satu hambatan yang dihadapi adalah ketidakjelasan dalam kepengurusan kelompok, perubahan pola pikir anggota kelompok, serta kurangnya informasi inovasi.
“Komunikasi antar anggota kelompok dengan pengurus dan sebaliknya perlu dihidupkan kembali, dari situ akan terjalin keterbukaan informasi,” Kata Wawandri.
Melalui berbagai solusi yang ditawarkan, seperti pembaharuan kepengurusan, pertemuan rutin, dan pemanfaatan teknologi dalam penanaman, kelompok Dasawisma “HAPAKAT” terus bangkit untuk mengatasi kendala-kendala tersebut.
“Ini adalah upaya nyata untuk merubah mindset anggota kelompok dan membangun kebersamaan dalam mengelola lingkungan sekitar,” Ungkap Wawandri.
Berbekal semangat dan pengetahuan, Mahasiswa ITB AD membantu proses pembentukan kepengurusan baru yang aktif dan berkomitmen untuk memajukan kelompok.
“Kami memberikan edukasi dan pelatihan untuk mengubah pola pikir tradisional menjadi lebih inovatif dan kreatif,” Kata Wawandri.
“Selain itu, kelompok ini juga dikenalkan dengan teknologi dan metode baru dalam pemanfaatan pekarangan, seperti penanaman dengan polybag dan paranet,” Imbuhnya.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi anggota kelompok, tetapi juga bagi masyarakat umum dan institusi terkait. Diantaranya adalah terciptanya semangat gotong royong, pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan, serta pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang lebih baik.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi semua pihak yang terlibat,” ungkap Susi H Banjar, Ketua Kelompok Dasawisma “HAPAKAT.
Melalui serangkaian kegiatan yang terencana dengan baik, kelompok ini berhasil melaksanakan pendampingan pembentukan pengurus kelompok, pembibitan tanaman, hingga pendistribusian bibit kepada anggota kelompok.
“Dengan kerja sama yang baik antara mahasiswa, kelompok dasawisma, dan pemerintah desa, kami berhasil mencapai hasil yang diharapkan,” jelas Wawandri.
Berkat pendampingan dari mahasiswa ITB AD, Kelompok Dasawisma “HAPAKAT” kini telah mencapai kemajuan yang signifikan. Kebersamaan dan semangat gotong royong terjalin dengan baik. Selain itu antar anggota kelompok bisa terjalinrasa kebersamaan dan semangat gotong royong yang tinggi.
Saat ini pemanfaatan pekarangan menjadi lebih optimal. Pekarangan rumah yang sebelumnya kosong kini menjadi sumber makanan yang berlimpah, seperti cabai merah, tomat, dan sayuran lainnya.
Dari sisis pendapatan keluarga juga ada peningkatan. Hasil panen dari pekarangan dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga dan mengurangi ketergantungan pada pasar.
Kemandirian dan pemberdayaan masyarakat yang tergabung dalam Kelompok “HAPAKAT” kini menjadi contoh sukses dalam pemberdayaan masyarakat dan menjadi inspirasi bagi kelompok lain di desa.
Kisah inspiratif Kelompok Dasawisma “HAPAKAT” menunjukkan bahwa dengan semangat kebersamaan, pola pikir yang maju, dan pendampingan yang tepat, masyarakat desa dapat diberdayakan dan mampu meningkatkan taraf hidup mereka.
Dari hasil kegiatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan masyarakat memerlukan komitmen yang kuat dari seluruh pihak terkait. Oleh karena itu, pendampingan dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah desa sangatlah penting untuk menjaga keberlanjutan program-program pemberdayaan masyarakat.
“Saran kami, kelompok ini perlu terus mengoptimalkan koordinasi dan memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak untuk meningkatkan dampak positifnya,” tutup Wawandri.
Kisah Kelompok Dasawisma “HAPAKAT” merupakan bukti nyata bahwa program MBKM dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat desa. Dengan kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat, pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa dapat diwujudkan.
Dengan adanya inisiatif seperti ini, diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat desa lainnya untuk turut serta dalam upaya pemberdayaan dan pengelolaan lingkungan.(AZW).
Views: 13

















