Mahasiswa ITB AD Sukses Dorong Swasembada Pangan Melalui Budidaya Padi Nasua di Desa Kajen

oleh
oleh
Evaluasi & Monitoring Tanaman Padi
Evaluasi & Monitoring Tanaman Padi

KLATEN, bioztv.id – Sebuah proyek independen yang melibatkan mahasiswa dari Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta, telah berhasil menarik perhatian dengan kegiatan merdeka belajar Kampus Merdeka (MBKM). Proyek yang berjudul “Percepatan Swasembada Pangan dengan Budidaya Padi Nasua di Desa Kajen” ini dipimpin oleh Bondan Ari Sungkowo.

Mitra sasaran proyek ini adalah Poktan Sedyo Maju 1, sebuah kelompok tani di Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Fokus utama kegiatan adalah untuk meningkatkan swasembada pangan di daerah tersebut melalui budidaya padi nasua.

Menurut Joko Purnomo, Ketua Poktan Sedyo Maju I, Kegiatan ini memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai tantangan dan karakteristik pertanian di daerahnya.

“Ini merupakan langkah positif untuk meningkatkan kesejahteraan petani lokal.” Kata joko.

Analisis situasi menunjukkan bahwa petani di Desa Kajen masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk rendahnya produktivitas pertanian, risiko kerugian panen, serta keterbatasan akses terhadap teknologi dan sumber daya. Oleh karena itu, proyek ini dirancang untuk memberikan solusi konkret atas masalah-masalah tersebut.

Dalam sebuah wawancara, Bondan Ari Sungkowo mengatakan, Pihaknya percaya bahwa dengan memperkenalkan budidaya padi nasua, petani akan mengalami peningkatan produktivitas dan pendapatan yang signifikan.

“Kami berharap proyek ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga sosial bagi masyarakat setempat,” Kata Bondan.

Padi Nasua adalah varietas padi unggul yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan varietas tradisional. Pasalnya, Padi Nasua dapat dipanen dua kali dalam setahun, sedangkan padi tradisional hanya sekali. Hasil panen padi jenis ini juga lebih tinggi.

Padi Nasua menghasilkan 12-14 ton per hektar, sedangkan padi tradisional hanya 6-8 ton per hektar. Selain itu, Padi Nasua juga lebih tahan hama dan penyakit. Padi ini lebih tahan terhadap hama wereng dan penyakit blas, sehingga petani dapat menghemat biaya pestisida.

“Keunggulan padi Nasua itu lebih cepat, hasil lebih banyak, dan tahan terhadap hama,” tegas Bondan.

Proyek ini juga melibatkan mahasiswa sebagai mitra kegiatan. Mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman lapangan yang berharga, tetapi juga dapat berkontribusi secara positif dalam pembangunan berkelanjutan.

“Melalui kolaborasi dengan pemerintah lokal dan organisasi non-pemerintah, proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas dalam mendukung pengembangan pertanian dan ketahanan pangan di tingkat lokal,” Ujar Bondan.

Metode kegiatan yang digunakan mencakup koordinasi, identifikasi masalah, pelatihan, praktek budidaya, pemantauan, dan evaluasi. Dengan pendekatan yang terencana dan berkelanjutan, proyek ini berhasil menghasilkan pencapaian yang positif.

Dalam prosesnya, Mahasiswa ITB AD juga memberikan pelatihan dan bimbingan kepada petani tentang teknik budidaya padi Nasua yang efektif dan berkelanjutan. Untuk menambah penguasaan praktek budidaya padi Nasua, para petani juga diberikan bombingan  dalam menerapkan teknik budidaya padi Nasua di lahan mereka.

“Proyek ini dilakukan tahap demi tahap, tijuannya agar petani benar benar memahami tahapan budidaya padi Nasua,” Ungkap Bondan.

Selain itu proses pemantauan dan evaluasi juga dilakukan. TIM mahasiswa ITB AD akukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan program berjalan dengan baik dan mencapai target yang diharapkan.

“Kami sangat senang dengan program ini. Petani mendapatkan banyak pengetahuan dan keterampilan baru tentang budidaya padi Nasua. Hasil panen kami meningkat significantly dan kami sekarang dapat panen dua kali dalam setahun.” Ungkap Joko Purnomo, Ketua Poktan Sedyo Maju 1.

Budidaya padi Nasua memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, serta mempercepat swasembada pangan di Indonesia. Program MBKM “Percepatan Swasembada Pangan dengan Budidaya Padi Nasua di Desa Kajen” merupakan contoh nyata bagaimana mahasiswa dapat berkontribusi dalam pembangunan desa dan membantu masyarakat.

Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Bagi petani diharapkan bisa  meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, serta meningkatkan kesejahteraan mereka. Bagi masyarakat bisa meningkatkan ketahanan pangan di Desa Kajen dan sekitarnya.

Sementara itu bagi Pemerintah, program ini bisa menjadi sarana untuk mendukung program swasembada pangan nasional. Sedangkan bagi Mahasiswa, bisa mendapatkan pengalaman lapangan yang berharga dalam mendukung petani lokal dan belajar tentang pertanian berkelanjutan.

Dalam kesimpulan dan saran yang disampaikan, disarankan untuk melakukan pengembangan lanjutan terhadap metode budidaya padi nasua, meningkatkan kualitas pelatihan bagi petani, memperluas jaringan kerjasama, serta menekankan pentingnya pemantauan dan evaluasi secara berkelanjutan.

“Program ini merupakan contoh nyata bagaimana MBKM dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga turun ke lapangan dan membantu menyelesaikan masalah nyata di masyarakat,” Ujar Bondan Ari Sungkowo, Mahasiswa ITB AD.

“Dengan demikian, proyek ini tidak hanya berhasil dalam meningkatkan swasembada pangan di Desa Kajen, tetapi juga memberikan inspirasi bagi upaya pembangunan berkelanjutan di berbagai daerah”, Pungkas Bondan.(AZW).

 

Views: 17