TRENGGALEK, bioztv.id – Masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi yang mengganggu tumbuh kembang anak, atau stunting masih menghantui ribuan anak di Trenggalek. Secara proporsi diketahui jika kantong kantong stunting tertinggi ada di wilayah Puskesmas Pucanganak, Kecamatan Tugu. Kemudian di Kecamatan Pule dan Munjungan.
Menurut Keterangan kepala dinas kesehatan pengendalian penduduk dan keluarga berencana Kabupaten Trenggalek, secara absolut kasus stunting tertinggi ada di Kecamatan Munjungan, Kecamatan Pule, dan Panggul. Namun secara proporsi, kasus stunting tertinggi justru terjadi di wilayah Puskesmas Pucanganak,Kecamatan Tugu. Kemudian urutan berikutnya juga terjadi di Kecamatan Pule, Kecamatan Panggul dan Kecamatan Kecamatan yang lain.
Lebih lanjut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek, dr.Sunarto menyampaikan, Untuk mengetahui kasus stunting pada anak sebenarnya sejak dari lahir bisa diketahui. Salah satu ciri cirinya yaitu dengan panjang badan kurang dari 48 CM. Selanjutnya dibandingkan antara tinggi atau panjang badan bayi dan umurnya sesuai dengan sandart WHO. Untuk pengukuran stunting dilakukan setiap 6 bulan sekali, karena pertumbuhan panjang badan bayi tidak tumbuh dengan cepat. Sedangkan waktu pengukurannya dilakukan setiap bulan februari dan bulan agustus. Dimana saat pengukuran itu, didalamnya juga ada pemberian gizi untuk bayi.
Sunarto juga menjelaskan, Sesuai data yang dihimpun dinas kesehatan Trenggalek, pada tahun 2018 angka stunting mencapai 14%, kemudian tahun 2019 turun menjadi 13,4%, tahun 2020 turun menjadi 11,4%, tahun 2021 turun menjadi 9,7%, tahun 2022 turun lagi menjadi 7,9%, sedangkan pada awal tahun 2023 kembali turun menjadi 6,7%. Artinya pada tahun 2023 ini masih ada sekitar 2500 anak di Trenggalek yang terkena stunting. Perhitungan ini merupakan perhitungan real sesuai bulan penimbangan yang dilakukan setiap 6 bulan sekali.
Views: 10
















