Hari Jadi Trenggalek Tahun 2026: Ada Doa di Balik Beringin, Bergodo Tani hingga Udik-Udik 11 Ribu

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek tahun 2026 tampil berbeda. Pemkab Trenggalek tidak hanya menggelar kirab pusaka dan rangkaian tradisi rutin, tetapi juga menitipkan deretan doa dan harapan melalui berbagai simbol dalam setiap prosesi adat.

Pemkab menghadirkan penanaman pohon beringin dan sawo kecik, sajian bunga bougenville, hingga pembagian 11 ribu kantong udik-udik kepada masyarakat untuk menyemarakkan Hari Jadi tahun ini.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menegaskan Pemkab tetap menjaga esensi perayaan tahunan tersebut. Namun, pemerintah sengaja menambahkan sejumlah simbol fisik untuk memperkuat doa dan harapan demi kemaslahatan masyarakat.

“Secara esensi tidak ada yang berbeda, tetapi kalaupun ada doa yang kita panjatkan untuk kebaikan daerah, ya kita lengkapi,” tutur Bupati yang akrab disapa Mas Ipin.

Beringin, Sawo Kecik, dan Doa “Sarwo Becik”

Pesan kebaikan pertama muncul dalam rangkaian ritual Metri Bumi. Mas Ipin secara khusus meminta panitia menanam pohon beringin.

Pemkab memilih pohon tersebut karena masyarakat Jawa memaknainya sebagai simbol pengayoman sekaligus harapan.

“Maknanya rinengkuh sarwo engkang dipingin—semua cita-cita dan harapan baik dapat terkabul dan tercapai,” ungkapnya.

Mas Ipin menitipkan doa itu kepada seluruh masyarakat Trenggalek. Ia berharap Allah SWT memudahkan setiap ikhtiar baik yang dilakukan masyarakat.

Pemkab kemudian melengkapi ritual tersebut dengan penanaman pohon sawo kecik.

“Harapan dasarnya, seluruh hal yang kita kerjakan ini nanti hasilnya sarwo becik—semuanya berubah dan berujung menjadi kebaikan,” tegas Mas Ipin.

Pesan sarwo becik atau serba baik menjadi sumber optimisme agar kerja sama antara pemerintah dan masyarakat menghasilkan manfaat bagi kemajuan Trenggalek.

Filosofi Bougenville: Tetap Mekar Indah di Tengah Kesulitan

Mas Ipin juga menghadirkan pesan moral melalui bunga bougenville. Ia secara khusus meminta panitia memasukkan bunga kertas tersebut ke dalam rangkaian Hari Jadi ke-832 Trenggalek.

Menurutnya, bougenville memiliki karakter unik yang menggambarkan daya tahan dan keteguhan mental.

“Bunga bougenville itu memiliki keunikan: ia justru mekar paling merona ketika sedang tersakiti atau berada di tengah kondisi sulit,” ulasnya.

Mas Ipin mengaitkan filosofi tanaman tersebut dengan kehidupan masyarakat. Ia menyadari setiap orang menghadapi ujian dan persoalan masing-masing.

Namun, menurutnya, tekanan dan kesulitan tidak boleh memadamkan harapan maupun semangat untuk terus berkarya.

“Kita harus tetap mekar dan optimistis karena kita percaya bahwa Tuhan selalu mengulurkan pertolongan-Nya,” paparnya.

Petani Unjuk Gigi di Barisan Bergodo Tani

Hari Jadi ke-832 Trenggalek tahun ini juga memberi ruang kehormatan lebih besar kepada sektor pertanian. Dalam puncak kirab, para petani akan mengambil bagian dalam barisan Bergodo Tani.

Mas Ipin menjelaskan, Pemkab membentuk Bergodo Tani untuk menyelaraskan semangat Hari Jadi dengan agenda pemerintah pusat dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.

“Barisan ini menjadi salah satu unsur penting. Mengingat Bapak Presiden menekankan pencapaian swasembada pangan secara nasional, maka parade tahun ini akan didominasi oleh Bergodo Tani,” urainya.

Kehadiran kelompok tani dalam iring-iringan adat menegaskan posisi pertanian sebagai sektor penting bagi ekonomi daerah sekaligus benteng ketahanan pangan.

Mas Ipin juga memastikan Pemkab akan menyampaikan pesan khusus dan rilis kebijakan bagi para petani dalam amanat Sabdotomo.

“Nanti dalam kesempatan Sabdotomo, saya akan menyampaikan pesan khusus dari Pemkab Trenggalek untuk seluruh petani,” tambahnya.

11 Ribu Udik-Udik, Simbol Doa Kawelasan

Nilai spiritual juga hadir melalui penyediaan 11 ribu kantong udik-udik. Petugas akan membagikan kantong berisi koin dan beras kuning tersebut kepada masyarakat di sepanjang rute kirab pusaka.

Selain membagikan udik-udik, Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek juga akan membagikan bibit pohon secara langsung kepada masyarakat yang menyaksikan kirab.

Mas Ipin menjelaskan, angka 11 ribu membawa filosofi tersendiri. Angka tersebut menjadi simbol harapan agar masyarakat Trenggalek memperoleh kawelasan atau kasih sayang serta pengayoman dari Allah SWT.

“Kita menyiapkan 11 ribu kantong. Harapannya, warga Trenggalek mendapatkan kawelasan dari Allah melalui perantara para malaikat-Nya,” kata Mas Ipin.

Ia juga memanjatkan doa agar Allah SWT senantiasa memberikan keselamatan dan kelancaran kepada seluruh masyarakat.

“Semoga Allah menugaskan para malaikat-Nya untuk menjaga dan melindungi kita semua,” tandasnya.

Masyarakat Diajak Ngarak dan Purak Tumpeng Bersama

Pemkab Trenggalek memastikan peringatan Hari Jadi ke-832 terbuka bagi seluruh masyarakat dan tidak hanya menjadi agenda kalangan pejabat.

Selain menghadirkan Tumpeng Paes Agung, Pemkab juga menyiapkan belasan tumpeng berukuran sedang yang dapat dipurak atau disantap bersama masyarakat.

Mas Ipin berharap pesta rakyat tersebut mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

“Harapan kita ke depan Trenggalek bisa makin baik lagi,” ujarnya.

Pemkab juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan seluruh tahapan ritual secara langsung.

“Acara ini terbuka untuk umum. Silakan masyarakat menyesuaikan diri, nanti bisa duduk berbaur bersama prajurit bergodo yang ada,” ajak Mas Ipin.

Tiban, Panjat Pinang hingga Wayang Kulit Ramaikan Hari Jadi

Selain kirab dan prosesi adat, Pemkab Trenggalek juga menyiapkan berbagai pertunjukan kesenian tradisional untuk masyarakat.

Panitia akan menggelar kesenian adu cambuk Tiban, panjat pinang, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Masyarakat mengenal Tiban sebagai kesenian yang memiliki hubungan kuat dengan kehidupan petani. Tradisi tersebut memuat doa agar hujan turun dan menyediakan air yang cukup bagi kebutuhan pertanian.

“Semoga hasil pertanian warga makin melimpah, yang salah satunya ditunjang dari ketersediaan air yang cukup,” tutur Mas Ipin.

Pesta rakyat panjat pinang akan menambah kemeriahan peringatan Hari Jadi sebelum masyarakat menikmati pagelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Makutho Rama.

Dalang Ki Purbo Asmoro dijadwalkan memimpin pagelaran ringgit purwa tersebut.

Berbagai simbol yang hadir dalam Hari Jadi ke-832 Trenggalek tahun ini menunjukkan bahwa Pemkab tidak hanya merayakan bertambahnya usia daerah.

Beringin membawa pesan pengayoman. Sawo kecik menitipkan doa sarwo becik. Bougenville mengajarkan keteguhan saat menghadapi kesulitan. Bergodo Tani menegaskan pentingnya ketahanan pangan. Sementara 11 ribu udik-udik menjadi simbol harapan atas kawelasan dan perlindungan Tuhan.

Melalui seluruh rangkaian tersebut, Hari Jadi ke-832 Trenggalek menjadi ruang untuk merawat tradisi sekaligus menitipkan doa agar Trenggalek terus tumbuh, bangkit menghadapi tantangan, dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.(CIA)

Views: 6