Demo GMNI di DPRD Trenggalek Memanas, Mahasiswa Bakar Ban, Protes Keras Krisis Pendidikan

oleh
oleh
Mahasiswa menyebut kobaran api sebagai simbol perlawanan dan kemarahan terhadap persoalan pendidikan yang dinilai belum berpihak kepada rakyat kecil.
Mahasiswa menyebut kobaran api sebagai simbol perlawanan dan kemarahan terhadap persoalan pendidikan yang dinilai belum berpihak kepada rakyat kecil.

TRENGGALEK, bioztv.id Asap hitam pekat membumbung tinggi di depan Gedung DPRD Trenggalek, Rabu (13/5/2026). Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam DPC GMNI Trenggalek menggelar aksi demonstrasi besar-besaran untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Di tengah orasi tajam, massa aksi membakar ban bekas tepat di depan gerbang kantor DPRD. Aksi tersebut langsung menyita perhatian, dan membuat aparat keamanan memperketat penjagaan. Bagi GMNI, kobaran api itu bukan sekadar teatrikal, melainkan simbol perlawanan dan kemarahan terhadap kebijakan pendidikan yang mereka nilai belum berpihak kepada rakyat kecil.

“Aksi bakar ban ini adalah simbol perlawanan dan sinyal bahaya. Ini teguran keras atas ketidakadilan yang masih membelit dunia pendidikan kita,” teriak mahasiswa.

Situasi sempat memanas ketika aparat meminta massa memadamkan api. Ketegangan meningkat saat mahasiswa mencoba mendorong barisan pengamanan di depan gerbang. Namun, suasana kembali kondusif setelah pimpinan DPRD Trenggalek turun langsung menemui massa aksi di jalan.

GMNI Bongkar Krisis Pendidikan di Trenggalek

Sambil mengibarkan panji organisasi, mahasiswa memaparkan berbagai persoalan pendidikan yang mereka anggap memprihatinkan. Mereka menyoroti kekurangan guru, dugaan pungutan liar (pungli), hingga puluhan sekolah yang belum memiliki kepala sekolah definitif.

Ketua DPC GMNI Trenggalek, Rian Firmansyah, menegaskan bahwa pemerintah masih menyimpan banyak pekerjaan rumah di sektor pendidikan, baik di tingkat nasional maupun daerah.

“Kami menemukan data bahwa ada kekosongan jabatan kepala sekolah di 53 SD dan 10 SMP di Trenggalek. Ini masalah serius,” tegas Rian.

Selain masalah manajerial, GMNI juga mendesak pemerintah daerah agar serius menangani kasus bullying, menekan angka anak putus sekolah, serta memeratakan fasilitas pendidikan yang masih timpang.

DPRD Siap Kawal Tuntutan Mahasiswa

Wakil Ketua DPRD Trenggalek bersama sejumlah anggota dewan langsung menerima aspirasi mahasiswa. Legislator mengaku terkejut setelah mendengar laporan mengenai banyaknya sekolah yang belum memiliki kepala sekolah definitif.

Anggota DPRD Trenggalek, Arik Sriwahyuni, menegaskan bahwa DPRD akan berdiri bersama mahasiswa untuk membenahi persoalan pendidikan tersebut.

“Kami kaget ternyata masih banyak sekolah yang tidak punya kepala sekolah definitif. Ada apa sebenarnya? Posisi itu adalah amanah penting, jadi kita harus mengusut tuntas penyebab kekosongan ini,” ujar Arik di hadapan massa.

Arik juga menyoroti adanya anomali di beberapa sekolah yang memiliki jumlah guru lebih banyak dibanding jumlah murid. Ia mendorong opsi regrouping atau penggabungan sekolah agar penggunaan anggaran lebih efektif.

DPRD Jadwalkan Pertemuan Teknis

Sebagai tindak lanjut, DPRD Trenggalek berjanji menggelar pertemuan teknis pada pekan depan. Forum tersebut akan mempertemukan GMNI dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk membahas persoalan pendidikan secara rinci.

“Rencananya minggu depan kita hadirkan OPD dan mahasiswa dalam forum diskusi bersama di kantor DPRD,” jelas Arik.

Aksi demonstrasi berakhir setelah mahasiswa dan pimpinan DPRD mencapai kesepakatan dialog. Meski sempat diwarnai ketegangan dan kepulan asap ban, massa akhirnya membubarkan diri secara tertib di bawah pengawalan ketat kepolisian.(CIA)

Views: 29