TRENGGALEK, bioztv.id – Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Cabang Trenggalek mengingatkan penyelenggara program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar mewaspadai risiko keamanan pangan selama Ramadan. Mereka menekankan pentingnya menjaga makanan agar tidak berada terlalu lama di “Zona Bahaya” yang bisa mengancam kesehatan anak-anak.
Ketua DPC PERSAGI Trenggalek, Rio Ardi Virgianto, menegaskan bahwa penyelenggara harus memperhatikan lebih dari sekadar kecukupan gizi. Mereka wajib mengelola suhu, waktu, dan kebersihan secara disiplin.
“Tiga pilar utama keamanan pangan adalah suhu, waktu, dan kebersihan. Penyelenggara harus memberi perhatian serius pada tiga hal ini,” ujar Rio.
Waspadai Zona Bahaya 5–60 Derajat Celsius
Rio menjelaskan istilah Danger Zone atau zona bahaya dalam ilmu gizi. Pada suhu 5 hingga 60 derajat Celsius, bakteri berkembang biak dengan sangat cepat.
“Bakteri bisa berlipat ganda hanya dalam waktu 20 menit jika makanan berada di rentang suhu 5 sampai 60 derajat Celsius,” jelasnya.
Rio merujuk standar dari World Health Organization (WHO) yang merekomendasikan konsumsi makanan matang maksimal dua jam jika berada di suhu ruang setelah proses memasak selesai. Jika penyelenggara membiarkan makanan terlalu lama tanpa pengendalian suhu, mereka meningkatkan risiko kontaminasi bakteri secara drastis.
Kecepatan Distribusi Jadi Penentu
Rio menegaskan bahwa penyelenggara harus memprioritaskan kecepatan distribusi. Ia menyebut kecepatan pengiriman makanan ke siswa jauh lebih penting daripada sekadar mempertimbangkan lama penyimpanan.
Jika petugas menjaga suhu makanan di atas 60 derajat Celsius, makanan bisa bertahan tiga hingga empat jam. Namun, jika makanan berada pada suhu ruang sekitar 20 derajat Celsius, penyelenggara hanya memiliki batas aman dua jam.
“Penyelenggara harus langsung mendistribusikan makanan setelah proses memasak selesai. Kecepatan distribusi jauh lebih penting daripada lama penyimpanan,” tegasnya.
Selama Ramadan, panitia harus menghitung jadwal produksi dan distribusi secara cermat agar makanan tidak terlalu lama berada di zona bahaya sebelum waktu berbuka.
Ikuti Prosedur Saat Mengemas Makanan
Rio juga mengingatkan petugas dapur agar tidak sembarangan menutup wadah makanan yang masih sangat panas. Ia meminta mereka mengikuti standar operasional yang berlaku.
“Petugas tidak boleh langsung menutup wadah saat makanan baru matang. Mereka harus menunggu suhu tertentu sebelum melakukan packing dan penutupan,” tambahnya.
Ahli Gizi Harus Lebih Teliti
PERSAGI meminta para ahli gizi yang terlibat dalam program MBG untuk meningkatkan ketelitian dan mematuhi pedoman teknis secara konsisten. Rio berharap setiap kendala di lapangan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem pengawasan.
“Setiap penyelenggaraan makanan skala besar pasti memiliki risiko. Tugas kita meminimalkan risiko itu dengan ketelitian tinggi, terutama saat Ramadan ketika pola konsumsi berubah,” pungkasnya.
Dengan pengendalian suhu yang ketat dan distribusi yang cepat, PERSAGI optimistis penyelenggara dapat menjaga keamanan program MBG sekaligus memastikan kesehatan anak-anak di Trenggalek tetap terlindungi selama Ramadan.(CIA)
Views: 13

















