TRENGGALEK, bioztv.id — Ribuan warga memadati halaman Pendopo Manggala Praja Nugraha saat puncak Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek, Senin (31/8/2026). Di tengah kerumunan itu, Seprihatin membawa cerita berbeda.
Perempuan 52 tahun tersebut datang jauh-jauh dari Papua. Ia memanfaatkan momen pulang kampung untuk ikut merasakan tradisi ngalap berkah yang selama ini hanya ia dengar dari cerita keluarga.
Seprihatin memiliki ikatan kuat dengan Trenggalek. Kedua orang tuanya tinggal di Kecamatan Tugu.
Begitu tiba di tanah kelahiran orang tuanya, Seprihatin tidak memilih berdiri di pinggir jalan. Ia justru masuk ke tengah kerumunan dan ikut berebut gunungan sayuran serta tumpeng hasil bumi.
Di bawah terik matahari, ia berdesakan dengan ratusan warga untuk mendapatkan bagian dari gunungan tersebut.
Hasil buruannya memang sederhana. Seprihatin hanya membawa sebatang wortel, sepotong kacang panjang, dan satu buah terung.
Namun, jumlah itu tidak mengurangi rasa bahagianya.
“Walaupun cuma dapat sedikit, saya tetap bersyukur. Hasil bumi ini akan saya bawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga,” kata Seprihatin.
52 Tahun Tinggal di Papua, Baru Kali Ini Ikut Hari Jadi Trenggalek
Seprihatin mengaku baru pertama kali mengikuti langsung kemeriahan Hari Jadi Trenggalek.
Selama puluhan tahun, jarak ribuan kilometer membuatnya sulit menyaksikan tradisi tersebut secara langsung. Ia lebih banyak menjalani kehidupan sehari-hari di Papua.
Momentum pulang kampung tahun ini akhirnya membuka kesempatan baginya untuk ikut merasakan tradisi Hari Jadi.
“Saya sehari-hari tinggal di Papua, tetapi orang tua saya menetap di Kecamatan Tugu, Trenggalek,” ungkapnya.
Ia pun memilih melebur bersama warga. Seprihatin tidak hanya menyaksikan kirab, tetapi ikut berebut hasil bumi yang masyarakat percaya membawa berkah.
Baginya, sayuran yang berhasil ia bawa pulang bukan sekadar bahan makanan.
Ia ingin mengolah hasil bumi itu menjadi santapan bersama keluarga. Lebih dari itu, ia menganggapnya sebagai bagian dari kenangan saat pertama kali mengikuti Hari Jadi Trenggalek.
Bawa Hasil Gunungan, Titip Doa untuk Trenggalek
Seprihatin tidak berhenti pada cerita berebut gunungan. Ia juga membawa doa untuk daerah yang menjadi akar keluarganya.
Ia berharap Trenggalek terus tumbuh sebagai daerah yang subur dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Semoga Trenggalek senantiasa menjadi daerah yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi,” ucapnya.
Ia juga berharap masyarakat Trenggalek terus menjaga kedamaian dan kerukunan.
“Semoga warganya hidup makmur, tenteram, dan saling berbuat baik,” tambahnya.
Doa Seprihatin itu sejalan dengan tema Hari Jadi ke-832 Trenggalek, “Hambeging Bumi”.
Pemkab Trenggalek membawa tema tersebut ke dalam berbagai rangkaian prosesi. Pemerintah tidak hanya mengangkat simbol budaya, tetapi juga berusaha menghadirkan perayaan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Hambeging Bumi Turun ke Jalan
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menerjemahkan Hambeging Bumi melalui aksi nyata dalam kirab.
Mas Ipin bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah berjalan kaki mengikuti rute kirab. Beberapa pimpinan bahkan melepas alas kaki dan berjalan di atas aspal panas.
Mas Ipin menyebut langkah tersebut sebagai bentuk laku tirakat sekaligus upaya menerjemahkan makna Hambeging Bumi secara langsung.
“Karena mengusung tema Hambeging Bumi, kita menyerap dan meneladani sifat-sifat bumi, yakni kembali membumi,” kata Mas Ipin.
Perayaan tahun ini juga bertepatan dengan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena itu, Pemkab Trenggalek memasukkan nuansa keagamaan dalam sejumlah prosesi.
“Bertepatan dengan bulan Maulid, kita memanfaatkan momentum ini untuk menghadirkan rasa cinta kepada Rasulullah di dalam sanubari kita,” jelas Mas Ipin.
Panitia mengumandangkan sholawat Mahalul Qiyam di tengah prosesi kirab. Mereka juga membagikan ribuan kantong udik-udik kepada masyarakat.
Petani Bawa Hasil Panen, Warga Berebut Berkah
Semangat berbagi juga terlihat dari keterlibatan kelompok tani dalam Bergodo Tani.
Para petani mengarak hasil bumi menggunakan cikar tradisional. Mereka membawa kacang panjang, terung, dan berbagai hasil pertanian lainnya.
Mas Ipin menyebut hasil panen tersebut sebagai bentuk sedekah para petani.
“Kelompok tani menyumbangkan hasil panen mereka sebagai sedekah. Ada yang menuntun cikar berisi kacang panjang hingga terung,” paparnya.(CIA)
Views: 9
















