TRENGGALEK, bioztv.id – Pemerintah Kabupaten Trenggalek kini menghadapi ancaman serius terkait masa depan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Srabah. Meski sebelumnya pemerintah memprediksi kapasitas TPA mampu bertahan hingga 2030, data terbaru menunjukkan lahan pembuangan tersebut bakal penuh jauh lebih cepat dari perkiraan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Trenggalek mencatat tren peningkatan volume sampah tahunan yang sangat mengkhawatirkan. Saat ini, setiap warga rata-rata menghasilkan 0,4 kilogram sampah per hari. Dalam satu tahun, total produksi sampah di Trenggalek mencapai lebih dari 37 ribu ton. Angka fantastis ini menjadi alarm serius bagi keberlanjutan pengelolaan lingkungan di Bumi Menak Sopal.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) DLH Trenggalek, Fahmi Rizab Syamsudi, membenarkan bahwa lonjakan volume sampah terus mempersempit kapasitas TPA Srabah.
“Melihat tren peningkatan sampah yang mencapai puluhan ribu ton per tahun, sepertinya TPA sudah penuh sebelum masuk tahun 2030,” ungkap Fahmi.
Siapkan Teknologi Pengolahan Sampah Modern
Untuk menekan gunungan sampah tersebut, Pemkab Trenggalek mulai mengkaji berbagai teknologi modern agar sampah memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Salah satu teknologi yang kini masuk pembahasan ialah Refuse Derived Fuel (RDF).
Teknologi RDF mampu mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara, terutama untuk industri semen.
“Beberapa daerah lain sudah menyuplai RDF sebagai bahan bakar pabrik semen. Kami sedang mengkaji peluang tersebut,” jelas Fahmi.
Selain RDF, DLH juga mempertimbangkan teknologi Pirolisis. Teknologi ini memanfaatkan pemanasan suhu tinggi untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif. DLH juga melihat peluang pengolahan limbah menjadi produk material bangunan seperti paving block hingga furnitur berbahan plastik daur ulang.
DLH Targetkan Kajian Rampung Akhir 2026
Meski TPA Srabah masih memiliki lahan yang berpotensi menjadi zona landfill baru, Fahmi menegaskan pemerintah belum mengambil keputusan final. DLH bersama PT Sarana Multi Infrastruktur masih menghitung sisa kapasitas TPA sambil menyusun strategi jangka panjang.
“Kami masih menghitung bersama PT SMI. Saat ini opsi penambahan atau pembukaan lahan lama belum keluar,” katanya.
Pemerintah menargetkan kajian komprehensif tersebut rampung pada akhir 2026 setelah melalui proses penyusunan selama delapan bulan.
Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan
Aktivitas masyarakat dan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menjadi tantangan besar bagi tata kelola sampah di Trenggalek. Pemerintah daerah menyadari bahwa sistem penumpukan sampah atau landfill tidak lagi cukup untuk mengatasi persoalan tersebut.
Karena itu, Pemkab Trenggalek mulai mendorong pemanfaatan teknologi agar puluhan ribu ton sampah tahunan tidak hanya menumpuk dan mencemari lingkungan, tetapi juga berubah menjadi sumber energi terbarukan.
Melalui kajian tersebut, pemerintah berharap Trenggalek mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang modern, mandiri, dan ramah lingkungan.(CIA)
Views: 7
















