Laporan MBG Basi SPPG Ngantru 3 Trenggalek Tembus Pusat, Satgas Tunggu Respons BGN

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id Insiden ratusan porsi makanan basi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Ngantru 3 Trenggalek tembus hingga pemerintah pusat. Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Trenggalek memastikan jika pihak koordinator daerah sudah melaporkan kronologis lengkap kejadian tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN).

Saat ini, publik menunggu keputusan tegas pemerintah pusat terkait kelanjutan program dan nasib dapur penyedia makanan tersebut.

Kirim Laporan Kilat ke Pusat

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Saeroni, mengungkapkan bahwa Satgas bergerak cepat setelah kasus itu mencuat. Tim Satgas lzngsung berkoordinasi dengan koordinator SPPG di kabuoaten Trenggalek. Hasilnya, pihak SPPG Ngantru 3 telah menyusun kronologis detail, mulai dari proses pengolahan di dapur hingga distribusi ke sekolah.

“Laporan lengkap sudah dikirim oleh koordinator daerah ke koordinator wilayah, dan kini sudah sampai ke tangan Badan Gizi Nasional,” jelas dr. Saeroni.

Meski laporan sudah terkirim, pemerintah daerah masih menunggu respons. Hingga kini, BGN belum memberikan umpan balik atau instruksi lanjutan terkait evaluasi maupun sanksi bagi penyedia.

“Terkait sanksi atau teguran, itu sepenuhnya kewenangan Badan Gizi Nasional. Satgas MBG di daerah tidak memiliki otoritas untuk memberikan sanksi,” tegasnya.

Uji Lab Negatif E. Coli, Tapi Makanan Berbau

Sebelumnya, SD Inovatif Trenggalek mengembalikan 400 porsi paket MBG pada 5 Februari 2026. Pihak sekolah menolak kiriman tersebut setelah guru mencium bau tidak sedap saat paket makanan tiba.

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek langsung mengambil sampel dan mengujinya melalui Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Hasil uji menunjukkan sampel tersebut negatif bakteri Escherichia coli (E. Coli).

Namun, hasil negatif E. Coli tidak otomatis menjamin keamanan pangan. Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, dr. Sunarto, menegaskan bahwa kondisi fisik makanan tetap menjadi indikator utama.

“Hasil negatif E. Coli tidak menjamin makanan aman konsumsi jika secara fisik sudah berbau. Lab kami di daerah terbatas pada metode pembiakan tertentu,” ujar dr. Sunarto.

Ia menjelaskan, bakteri patogen lain seperti Staphylococcus, Shigella, atau Salmonella bisa saja mencemari makanan tersebut. Untuk memastikan hal itu, petugas perlu melakukan pemeriksaan lanjutan di laboratorium rujukan, seperti di Surabaya.

Insiden ini menjadi evaluasi serius bagi pelaksanaan program MBG. Dr. Saeroni menegaskan bahwa Satgas mendesak adanya perbaikan pada sistem distribusi dan pengawasan mutu MBG.(CIA)

Views: 56