TRENGGALEK, bioztv.id – Enam puluh tahun bukan waktu yang singkat. Namun bagi warga Dusun Krajan, Desa Prambon, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, itulah kenyataan hidup mereka. Selama enam dekade, mereka menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada air sumur yang keruh, berwarna kuning keemasan, dan berbau logam karat menyengat.
Ketika pembangunan infrastruktur nasional terus bergerak, ratusan jiwa di sana justru hidup dengan air yang bahkan tidak sanggup menjaga warna baju putih tetap bersih, apalagi layak diminum.
Air Bau Logam Menguningkan Baju dan Menjadi Rutinitas Pahit
Amin, warga RT 16 RW 03, tumbuh besar dengan kondisi air sumur yang keruh dan berbau logam. Ia menceritakan bagaimana air berwarna cokelat kekuningan itu telah menjadi bagian dari hidup mereka sehari-hari.
“Warna air sumur di sini kuning, keruh, dan baunya seperti logam karatan. Kalau kami pakai mencuci baju putih, hasilnya jadi kuning kecoklatan,” ujar Amin, Senin (14/10/2025).
Warga tetap memakai air itu untuk mandi dan mencuci. Untuk minum, mereka mengambil air dari sumur tetangga yang sedikit lebih jernih.
“Kami mengambil air dari tetangga yang sumurnya agak jernih. Itu pun harus kami rendam semalaman dulu sebelum diminum. Kalau airnya keruh, meski direndam semalaman, baunya tetap menyengat,” tambahnya.
Krisis Air Bersih Menurun dari Generasi ke Generasi
Krisis air bersih di Dusun Krajan sudah berlangsung lintas generasi. Warga meyakini persoalan ini muncul jauh sebelum mereka lahir. Ratusan jiwa di kawasan itu mengandalkan sumur dangkal sedalam 8 hingga 12 meter sebagai satu-satunya sumber air.
Selama puluhan tahun, air tanah terus menyerap aliran sungai dan limbah pertanian dari sawah sekitar. Proses ini mencemari air sumur, mengubah warnanya menjadi kuning keemasan, membuat permukaannya berminyak, dan memperkuat bau logam karat.
Warga Desak Pemerintah Bor Sumur Dalam untuk Akses Air Bersih
Warga saat ini hanya mengandalkan pasokan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Trenggalek sebagai langkah darurat. Namun, bantuan itu tidak datang setiap hari dan tidak mencukupi kebutuhan jangka panjang.
“Kami berharap pemerintah segera membuat sumur dalam yang airnya bersih dan tidak berbau. Karena sumur di sini cuma bisa kami gali sampai 12 meter. Lebih dari itu, alat bor tidak mampu menembus tanah,” tandas Amin.(CIA)
Views: 46
















