Mas Ipin Dorong DIsnak Trenggalek Manfaatkan Tradisi Nggaduh Untuk Strategi “Full Employment”

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Di tengah tekanan fiskal dan ketatnya ruang anggaran akibat efisiensi serta kondisi ekonomi global yang belum stabil, Bupati Trenggalek tetap optimistis bisa mendorong agenda full employment atau perluasan kesempatan kerja. Menariknya, strategi itu tak harus mengandalkan belanja APBD besar, melainkan memanfaatkan kearifan lokal yang sudah lama hidup di tengah masyarakat.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin atau yang akrab disapa Mas Ipin  mencontohkan, di sektor peternakan dan perikanan, masyarakat Trenggalek terbiasa dengan sistem nggaduh, yakni memelihara ternak milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Pola ini, menurutnya, bisa menjadi solusi cerdas mengatasi pengangguran tanpa membebani anggaran daerah.

“Pertanyaan saya, di tengah fiskal yang seperti sekarang, apakah kita bisa mendorong full employment agenda tanpa anggaran? Jawabannya sangat bisa. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan kultur masyarakat yang sudah terbiasa ini,” tegas Mas Ipin/

Lebih lanjut, Mas Ipin menyebut selama ini Organisasi Perangkat Daerah (OPD) kerap beralasan tak bisa memberi bantuan bibit ternak kepada warga miskin karena tidak ada anggaran. Padahal, pemerintah daerah bisa berperan sebagai fasilitator dengan menggandeng para pengusaha ternak yang kelebihan stok hewan peliharaan.

“Misal, kandang peternak sudah penuh, kenapa nggak digeser ke warga miskin? Ternaknya tetap milik mereka, yang merawat warga, bagi hasilnya jelas, dan insentifnya cukup dinas terkait mengasuransikan saja ternaknya. Itu lebih murah dibanding pemerintah harus beli ternak baru,” terang Mas Ipin.

Saat ini, sebenarnya sudah ada program asuransi peternakan dan perikanan. Tinggal bagaimana OPD teknis memanfaatkan fasilitas itu, sembari menjalin kemitraan dengan para peternak yang bersedia menggaduhkan ternaknya kepada warga miskin.

“Coba hitung cost-nya, mana lebih murah? Beli bibit ternak satu-satu atau bayar premi asuransi ternak yang digaduhkan?. Selama ini tanpa insentif saja, masyarakat sudah sering melaksanakan sistem gaduh ternak. Apalagi kalau ada jaminan asuransi. Warga tentu makin yakin dan percaya diri,” tambahnya.

Mas Ipin berharap, pola seperti ini tak hanya bisa menyerap tenaga kerja di pedesaan, tapi juga menjaga perputaran ekonomi rakyat. Sebab, potensi peternakan dan perikanan rakyat selama ini belum tergarap maksimal.

“Dengan mengutamakan strategi berbasis tradisi lokal, pengentasan kemiskinan dan pengangguran bisa dilakukan tanpa harus menunggu anggaran besar. Yang dibutuhkan hanya keberanian, kemauan kolaborasi, dan inovasi dari para pengampu kebijakan,” pungkas Mas Ipin.(CIA)

Views: 3