TRENGGALEK, bioztv.id – Longmarch demo tolak Perpres 104 dengan seragam biru putih SMP, Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Trenggalek beberkan filosofi dibalik kostum yang ia gunakan. Menurutnya, SMP merupakan singkatan dari “saya menuntut pusat”. Meski aksinya dilakukan didaerah, namun tuntutannya kepada pemerintah pusat.
Pada aksi demo tolak Perpres 104 ini, ribuan perangkat desa dan kepala desa di Trenggalek gelar aksi longmarch didepan kantor DPRD Trenggalek dan Pendopo Manggala praja Nugraha. Aksi ini dikomandani langsung oleh ketua ketua AKD Trenggalek, yang merupakan mantan aktivis. Selain menggelar orasi disepanjang jalan dan penyampaian aspirasi langsung di kantor DPRD maupun Pendopo, Dalam aksinya ini, ketua AKD menggunakan seragam SMP lengkap hingga penutup kepalanya.
Menanggai kostum yang ia pakai ini, Ketua AKD Trenggalek, Puryono menyampaikan, jika pemilihan kostum yang ia kenakan itu bukan sembarang kostum. Tapi ada filosofinya. Menurutnya, SMP juga memiliki arti yang sama dengan aksi yang ia lakukan ini, yaitu saya menuntut pusat, jika disingkat maka menjadi SMP.
Sekedar diketahui bahwa, aksi longmarch demo tolak Perpres 104 ini dilakukan ribuan perangkat desa yang tergabung dalam PPDI dan AKD Trenggalek. Sedikitnya ada sekitar 1.700 massa yang ikut dalam aksi ini. Poin yang ia tolak pada perpres 104 ini adalah pasal 5 ayat 4 yang mengatur soal program perlindungan sosial bantuan langsung tunai desa. Dalam perpres itu, pemerintah memberi batas minimal penggunaan dana desa untuk BLT, yakni 40 persen. Artinya kalau dana desa itu Rp 1,5 miliar, ini ada sekitar 700 juta untuk BLT. Nilai itu dinilai terlalu besar. Sehingga kepala dan perangkat akan kesulitan untuk mencari sasaran penerima BLT dana desa sesuai kriteria yang ditetapkan pemerintah pusat.
Views: 0
















