Hantavirus Mulai Jadi Perbincangan, Pahami Gejala, Penularan dan Cara Penanganannya

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id Publik mulai ramai membahas Hantavirus setelah tim medis menemukan sejumlah kasus konfirmasi di beberapa wilayah Indonesia. Meski otoritas kesehatan memastikan Kabupaten Trenggalek masih aman dari virus tersebut, masyarakat tetap harus meningkatkan kewaspadaan karena tikus dan hewan pengerat lain menyebarkan virus berbahaya ini.

Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek, Andiek Muarifin, menjelaskan bahwa cairan tubuh tikus seperti urine, air liur, dan kotoran (feses) menjadi sumber utama penyebaran Hantavirus.

“Tikus atau hewan pengerat lainnya menjadi aktor utama yang menularkan Hantavirus ini kepada manusia. Sementara itu, kasus penularan antarmanusia tercatat sangat jarang terjadi,” ujar Andiek Muarifin, Rabu (20/5/2026).

Waspada Penularan Lewat Hirupan Debu Terkontaminasi

Andiek meluruskan anggapan masyarakat yang mengira Hantavirus hanya menular lewat gigitan tikus. Faktanya, virus ini juga dapat masuk ke tubuh ketika seseorang tanpa sengaja menghirup udara atau debu yang telah terkontaminasi cairan tubuh hewan pengerat.

Seseorang juga berisiko tertular ketika menyentuh benda yang terkena urine atau kotoran tikus lalu memegang mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

“Lingkungan yang kotor dan padat populasi tikus menjadi faktor risiko paling utama dalam penyebaran virus ini,” jelas Andiek.

Dinkes memetakan sejumlah kelompok yang rentan terpapar Hantavirus, seperti petugas pengendalian hama, pekerja proyek konstruksi, warga kawasan kumuh, hingga pencinta alam yang sering berkemah atau beraktivitas di hutan terbuka.

Gejala Awal Mirip Flu dan Demam Biasa

Andiek menjelaskan bahwa gejala awal Hantavirus sering mengecoh penderita karena menyerupai flu biasa. Virus ini juga memiliki masa inkubasi cukup panjang, yakni sekitar satu hingga delapan minggu setelah paparan pertama.

Gejala awal yang paling sering muncul meliputi demam tinggi, sakit kepala berat, nyeri otot, tubuh lemas, mual, muntah, hingga diare.

“Jika pasien terlambat mendapatkan penanganan medis, gejala awal tersebut bisa berkembang menjadi gangguan organ yang sangat serius pada paru-paru maupun ginjal,” katanya.

Secara medis, Hantavirus terbagi menjadi dua manifestasi klinis utama, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Pasien HPS biasanya mengalami batuk berat, sesak napas akut, hingga pembengkakan paru-paru yang berisiko fatal. Sementara pasien HFRS lebih rentan mengalami kerusakan ginjal, pendarahan dalam, hingga gagal ginjal akut.

Belum Ada Vaksin, Dinkes Minta Warga Jaga Kebersihan

Hingga saat ini, dunia medis belum menemukan vaksin khusus untuk mencegah Hantavirus. Karena itu, Dinkes Trenggalek meminta masyarakat fokus menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Warga perlu rutin mencuci tangan memakai sabun, membersihkan sudut rumah yang lembap, serta menutup rapat lubang atau celah dinding yang berpotensi menjadi jalur masuk tikus.

“Masyarakat harus rutin membersihkan lokasi yang berpotensi menjadi tempat bersarangnya tikus, seperti gudang rumah atau tumpukan barang-barang bekas,” tegas Andiek.

Ia juga meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami demam, pusing, atau gangguan pernapasan yang tidak kunjung membaik, terutama setelah beraktivitas di lingkungan kotor atau kontak dengan tikus.

Pasien Hantavirus Butuh Penanganan Intensif

Andiek menambahkan, pasien yang terindikasi kuat tertular Hantavirus biasanya membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit untuk menekan risiko komplikasi mematikan.

Tim medis umumnya memberikan terapi berupa suplai oksigen, cairan infus, obat antivirus tertentu, hingga alat bantu pernapasan (ventilator) apabila kondisi pasien terus memburuk.

“Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan medis secara intensif, maka peluang mereka untuk sembuh total juga akan semakin besar,” pungkasnya.(CIA)

Views: 4