TRENGGALEK, bioztv.id – Ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual, melainkan juga sebuah ujian fisik dan mental. Hal ini dirasakan langsung oleh Jamaludin Malik, seorang jemaah haji asal Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek. Di balik kelancaran pelaksanaan haji tahun ini, ia membawa pulang pengalaman berharga dan cerita perjuangan tak terlupakan.
Jamaludin mengungkapkan, secara umum, penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berjalan baik. Namun, penerapan sistem baru dari pemerintah Arab Saudi menciptakan dinamika di lapangan. Salah satu dampaknya adalah pemisahan kloter jemaah yang membuat suami, istri, pendamping, dan kelompok haji seringkali terpisah.
“Dulu satu kloter bisa berkumpul, sekarang bisa terpisah. Suami, istri, dan pendamping tidak bisa selalu bersama,” jelas Jamaludin.
Meski sempat menyulitkan, Jamaludin memandang problem ini sebagai bagian dari ujian ibadah haji yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan baik. “Intinya, dalam proses melaksanakan ibadah haji, jangan hanya mengambil enaknya saja,” tegas Jamaludin.
Kondisi penerapan sistem baru ini justru menjadi ruang belajar bagi para jemaah. Para jemaah dituntut untuk lebih mandiri dan membangun kekompakan di tengah situasi yang berbeda. Jamaludin meyakini, jika kebersamaan antarjemaah tetap terjaga, semua tantangan akan terlewati dengan baik.
“Ini mengajarkan kita untuk saling membantu. Kalau jemaah bisa solid, semuanya akan lebih mudah,” tambahnya.
Jamaludin juga menekankan bahwa petugas haji harus bisa beradaptasi dengan perubahan sistem. Banyak dari mereka yang belum terbiasa dengan penerapan sistem baru dari pemerintah Arab Saudi.
Terkait kekhawatiran akan cuaca panas ekstrem di Arab Saudi, Jamaludin memastikan bahwa tahun ini suhu masih dalam batas wajar. Suhu di beberapa titik seperti Makkah, Arafah, dan Mina memang tinggi, namun tidak sampai ekstrem.
“Cuacanya standar, sekitar 39 sampai 42 derajat. Di Mina yang katanya bisa sampai 50 derajat, alhamdulillah waktu itu tidak sampai segitu. Jemaah masih bisa menyesuaikan,” ucapnya.
Dari sisi konsumsi, makanan untuk jemaah Indonesia di Tanah Suci dinilai cukup aman dan memadai. Jamaludin bahkan menyebut jemaah Trenggalek masih bisa menikmati makan dalam porsi lebih.
Namun, kendala sempat muncul saat proses perpindahan dari Arafah ke Mina. Keterbatasan armada membuat sejumlah jemaah terlambat mendapatkan makanan.
“Waktu itu memang sempat ramai, bus yang seharusnya mengangkut dari Muzdalifah ke Arafah belum bisa mencakup semua jemaah. Akhirnya banyak yang telat makan pagi itu. Tapi selebihnya alhamdulillah aman,” ceritanya.
Jamaludin berharap, ke depan, sistem yang diterapkan bisa lebih diperjelas dan dipersiapkan sejak awal. Ini termasuk kesiapan para petugas haji dari Indonesia agar mereka lebih maksimal dalam mendampingi jemaah.
“Jika petugas sudah paham sistem, jemaah juga akan lebih tenang. Jadi tantangan seperti kemarin bisa diantisipasi lebih baik,” pungkasnya.
Ibadah haji memang bukan perjalanan yang mudah. Di balik cerita penuh tantangan, para jemaah justru kembali dengan pengalaman batin luar biasa. Mereka belajar arti kesabaran, keikhlasan, hingga solidaritas sesama jemaah di tengah keterbatasan.
“Haji itu bukan hanya soal ritual ibadah, tetapi tentang bagaimana kita menghadapi ujian dan tetap bisa bersyukur,” kata Jamaludin menutup kisahnya.(CIA)
Views: 182
















