TRENGGALEK, bioztv.id – Kekeringan yang melanda Desa Sumberejo, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, memaksa warga berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Dengan tidak adanya layanan PDAM dan sumur-sumur yang mengering, masyarakat terpaksa mengandalkan bantuan air dan membeli air dari pihak swasta untuk bertahan.
Menurut Sringatin, warga Desa Sumberejo, kekeringan parah mulai dirasakan sejak empat bulan lalu. Selama periode ini, pasokan air bersih hanya mengandalkan kiriman bantuan pemerintah. Namun, keterbatasan jumlah air yang dikirim membuat warga terkadang harus merogoh kocek untuk membeli air bersih.
“Kalau ada kiriman bantuan air, ya kami ambil. Tapi sering kali kami harus beli. Satu tangki air harganya Rp100 ribu dan biasanya hanya cukup untuk tiga hari,” ujar Sringatin.
Sesuai data yang dihimpun BPBD Trenggalek, bencana kekeringan di Trenggalek saat ini telah berdampak pada 70 desa dan kelurahan dari total 157 desa di 14 kecamatan. Kecamatan Panggul menjadi wilayah dengan dampak terparah. Disana, bencana keekringan hampir merata di seluruh desa.
Untuk kondisi kekeringan yang melanda Desa Sumberejo, Kecamatan Durenan ini, sumur-sumur warga dengan kedalaman 20 meter pun sudah tidak lagi mengeluarkan air.
“Kekeringan ini sudah terjadi sejak sekitar 4 bulan lalu, namun kondisi kekeringan separah ini baru terjadi kali ini,” tambah Sringatin.
Bencana kekeringan di Trenggalek ini menunjukkan betapa mendesaknya solusi jangka panjang untuk sistem distribusi air, terutama di wilayah tanpa akses PDAM seperti Desa Sumberejo. Warga berharap ada solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air bersih. Solusi seperti pembangunan infrastruktur air yang lebih baik diharapkan bisa menjangkau daerah rawan kekeringan. Harapannya agar warga tidak selalu bergantung pada bantuan air bersih saat dilanda kekeringan.(CIA)
Views: 1

















