TRENGGALEK, bioztv.id – Banyak orang memilih pasrah ketika mengetahui orang tuanya mengidap diabetes karena menganggap penyakit itu sebagai “warisan” yang pasti menurun ke anak. Namun, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Diskes PPKB) Trenggalek secara tegas mematahkan anggapan tersebut.
Kepala Diskes PPKB Trenggalek, dr. Sunarto, menegaskan bahwa keluarga tidak menurunkan penyakit diabetes secara langsung, melainkan hanya menurunkan tingkat kerentanan.
“Yang menurun itu bukan penyakitnya, tetapi kerentanannya. Selama seseorang menerapkan pola hidup sehat, kita bisa menekan risiko itu serendah mungkin,” ujar dr. Sunarto.
Riwayat Keluarga Naikkan Risiko
Seseorang yang memiliki orang tua atau kerabat dekat penderita diabetes memang berada pada risiko lebih tinggi. Namun, dr. Sunarto menekankan bahwa kondisi tersebut bukan vonis mutlak.
“Jika ayah menderita diabetes, anaknya belum tentu mengalami penyakit yang sama. Pengendalian pola hidup menjadi kunci utama agar risiko genetik tidak berkembang menjadi penyakit,” jelasnya.
Menurutnya, faktor genetik baru berubah menjadi ancaman serius ketika seseorang mengombinasikannya dengan pola hidup tidak sehat, seperti konsumsi gula berlebihan dan minim aktivitas fisik.
Prediabetes Mengintai Tanpa Gejala
Sunarto menjelaskan bahwa fase prediabetes menjadi tantangan terbesar dalam pengendalian diabetes keturunan. Pada fase ini, kadar gula darah mulai meningkat, tetapi belum memunculkan gejala yang terasa.
Banyak warga baru menyadari kondisi tersebut setelah mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang pemerintah daerah gencarkan.
“Melalui skrining massal, masyarakat kini mengetahui apakah kondisinya masih normal, berada pada fase prediabetes, atau sudah diabetes. Informasi ini sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga,” kata dr. Sunarto.
Ia menambahkan, masifnya skrining inilah yang membuat angka diabetes di Trenggalek terlihat meningkat, karena kasus yang sebelumnya tersembunyi kini terdeteksi dan dapat segera ditangani.
Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama Diabetes
Sunarto menyoroti gaya hidup modern sebagai pemantik utama munculnya diabetes pada individu dengan faktor keturunan. Konsumsi gula tinggi, dominasi karbohidrat olahan, serta kebiasaan kurang bergerak mempercepat kemunculan penyakit.
“Kurang aktivitas fisik membuat reseptor insulin tidak peka. Jika seseorang juga mengalami obesitas, risiko diabetes akan meningkat berkali-kali lipat,” tegasnya.
Dalam jangka panjang, ketidakmampuan insulin bekerja secara optimal akan mendorong lonjakan gula darah hingga akhirnya mengarah pada Diabetes Melitus.
Pemilik Riwayat Keluarga Harus Lebih Disiplin
Alih-alih bersikap pasrah, Diskesdalduk KB Trenggalek mendorong warga dengan faktor genetik untuk bersikap lebih disiplin dibandingkan masyarakat pada umumnya. Pemerintah menilai pencegahan dini jauh lebih murah dan efektif daripada menangani komplikasi diabetes.
“Orang yang memiliki faktor keturunan seharusnya menjadi yang paling disiplin menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan memeriksakan kesehatan,” pesannya.
Menutup penjelasannya, dr. Sunarto berharap masyarakat mengubah pola pikir. Diabetes keturunan bukan takdir yang tidak bisa dihindari, melainkan peringatan untuk memulai hidup sehat lebih awal.(CIA)
Views: 30
















