Waspada Zona Bahaya 5–60°C: Persagi Trenggalek Beri Peringatan Keras Soal MBG Saat Ramadan

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id Menjelang pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 2026, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Trenggalek mengingatkan pengelola program agar tidak hanya mengganti menu menjadi makanan kering. Mereka meminta semua pihak memprioritaskan keamanan pangan dalam setiap proses produksi dan distribusi makanan.

Ketua DPC PERSAGI Trenggalek, Rio Ardi Firgianto, menjelaskan bahwa keamanan pangan bergantung pada tiga pilar utama, yakni suhu, waktu, dan kebersihan, terutama saat menyiapkan makanan berbuka puasa.

“Keamanan pangan dipengaruhi suhu, waktu, dan kebersihan. Dalam pengaturan suhu, ada yang kami sebut sebagai ‘Zona Bahaya’, yaitu pada rentang 5 hingga 60 derajat Celsius,” tegas Rio.

Bahaya Bakteri di Suhu 5–60°C

Rio menegaskan bakteri berkembang biak sangat cepat pada suhu 5–60°C. Dalam kondisi tersebut, bakteri bahkan bisa menggandakan jumlahnya hanya dalam waktu sekitar 20 menit.

Ia merujuk rekomendasi World Health Organization (WHO) yang menyarankan masyarakat mengonsumsi makanan matang dalam waktu maksimal dua jam jika makanan berada di suhu zona bahaya. Jika pengelola membiarkan makanan melewati batas waktu tersebut tanpa pendinginan atau pemanasan ulang yang tepat, kualitasnya akan turun drastis dan berisiko bagi kesehatan.

Artinya, jika pengelola MBG tidak menyesuaikan waktu distribusi dengan jadwal berbuka puasa, mereka berpotensi meningkatkan risiko keracunan atau menurunkan kualitas gizi pada anak-anak.

Geser Distribusi Mendekati Waktu Berbuka

Untuk menekan risiko, PERSAGI menyarankan pengelola menggeser jadwal memasak dan distribusi makanan agar lebih dekat dengan waktu berbuka.

“Kalau biasanya distribusi dilakukan pagi hari, selama Ramadan sebaiknya digeser mendekati jadwal buka puasa,” saran Rio.

Ia mengakui skema ini membutuhkan koordinasi ekstra dengan pihak sekolah. Namun, ia menilai langkah tersebut jauh lebih aman dibanding langsung mengganti menu menjadi makanan kering. Jika pengelola menghadapi kendala teknis, barulah mereka bisa mempertimbangkan menu kering sebagai alternatif terakhir.

“Menu kering itu pilihan cadangan. Prioritas utama tetap pada penyesuaian waktu masak dan distribusi agar makanan tetap segar saat disantap,” tambahnya.

Menu Kering Harus Tetap Penuhi Gizi

Jika pengelola terpaksa menggunakan menu kering agar lebih tahan lama, Rio menekankan mereka tetap harus memenuhi kebutuhan protein dan energi. Mereka bisa mengambil sumber protein dari abon ikan atau daging, serta memenuhi kebutuhan energi melalui roti atau gandum.

Namun, ia mengingatkan dapur MBG agar selektif memilih bahan pangan.

“Hindari makanan kering kategori ultra-processed food atau yang mengandung zat kimia berlebih. Itu kurang baik untuk kesehatan jangka panjang,” jelasnya.

Sebagai alternatif alami, Rio merekomendasikan kurma karena kaya nutrisi dan mampu bertahan di suhu ruang tanpa pendingin khusus.

Terapkan SOP Ketat Saat Pengemasan

Rio juga mengingatkan pentingnya standar operasional saat mengemas makanan menggunakan ompreng atau wadah tertutup. Ia menegaskan petugas tidak boleh langsung memasukkan makanan yang masih sangat panas ke dalam wadah lalu menutupnya rapat.

“Ada standar khusus. Makanan tidak langsung dimasukkan ke ompreng dan ditutup rapat saat masih panas mendidih. Harus ada jeda waktu dan suhu tertentu sebelum proses packing supaya tidak lembap dan cepat basi,” pungkasnya.

Melalui pengawasan ketat dan penyesuaian teknis yang tepat, PERSAGI Trenggalek ingin memastikan Program Makan Bergizi Gratis tetap aman, bergizi, dan benar-benar memberi manfaat bagi kesehatan anak-anak selama Ramadan.(CIA)

Views: 31