TRENGGALEK, bioztv.id – Ketika jutaan orang bersiap pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga, para kru bus justru tetap berada di jalan. Mereka mengemudikan bus, melayani penumpang, dan memastikan perjalanan para pemudik berlangsung aman serta nyaman.
Di tengah ramainya arus mudik di Trenggalek, para pramugari dan sopir bus menunda kerinduan kepada keluarga. Mereka memilih tetap bertugas demi mengantarkan ribuan penumpang pulang ke kampung halaman.
Salah satunya Nabila, pramugari muda berusia 23 tahun asal Yogyakarta yang baru setahun bekerja di perusahaan bus Rosalia Indah.
Menahan Rindu Demi Pekerjaan
Nabila menjalani berbagai pengalaman sejak bekerja sebagai pramugari bus. Ia bertemu banyak penumpang dengan karakter berbeda hampir setiap hari. Namun, ia juga harus menghadapi satu konsekuensi besar: jarangnya waktu untuk pulang ke rumah.
“Kalau suka dukanya pasti banyak. Tapi yang paling terasa itu jauh dari keluarga. Istirahat juga kadang kurang,” ujar Nabila.
Meski begitu, ia tetap menikmati pekerjaannya. Baginya, interaksi dengan penumpang justru memberikan energi baru.
“Kalau ketemu penumpang yang ramah atau driver yang baik, rasanya seperti dapat semangat lagi,” katanya.
Pada Lebaran tahun ini, Nabila memastikan dirinya tidak mudik. Ia justru menjadi bagian dari kru yang melayani para pemudik.
“Lebaran kali ini saya tidak mudik, karena sebagai kru bus otomatis kami jadi bagian dari panitia mudik,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia biasanya baru bisa pulang kampung setelah masa arus mudik dan arus balik selesai.
“Kalau semua sudah selesai, baru kami bisa pulang kampung. Biasanya setelah arus mudik dan arus balik selesai,” jelasnya.
Dalam satu armada bus, Nabila biasanya bekerja bersama dua sopir. Ia melayani rute panjang Trenggalek menuju Merak, rute yang selalu dipadati pemudik setiap musim Lebaran.
Dua Dekade Menjadi Sopir Bus
Cerita serupa datang dari sopir bus berpengalaman Rahmat Muttaqin. Pria asal Surakarta itu sudah mengemudikan bus sejak tahun 2004.
Rahmat memahami bahwa pekerjaannya menuntutnya tetap berada di jalan ketika orang lain berkumpul bersama keluarga.
“Menjadi orang jalanan ya seperti ini. Kalau soal mudik atau kumpul keluarga, kami biasanya yang terakhir,” kata Rahmat.
Ia bahkan sering baru bisa merayakan Lebaran bersama keluarga setelah musim mudik dan arus balik selesai.
Meski begitu, Rahmat tetap menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Ia mengakui rasa rindu kepada keluarga selalu muncul di setiap perjalanan.
“Kalau rasa kangen keluarga pasti ada. Namanya juga manusia,” ujarnya.
Untuk mengusir rasa rindu, Rahmat memiliki cara sederhana. Saat mengemudi menuju Jakarta, ia membayangkan sedang menjenguk anaknya yang bekerja di sana.
“Kalau perjalanan ke Merak, saya anggap seperti menjenguk anak di Jakarta. Kalau pulangnya ke Solo, berarti pulang ke istri,” tuturnya.
Pahlawan Jalanan Saat Musim Mudik
Di tengah hiruk pikuk mudik Lebaran, kisah Nabila dan Rahmat menggambarkan dedikasi para kru transportasi yang bekerja di balik kelancaran perjalanan para pemudik.
Mereka mungkin tidak merayakan Lebaran tepat waktu bersama keluarga. Namun berkat kerja keras para kru bus tersebut, ribuan pemudik bisa tiba di kampung halaman dengan selamat.
Bagi Nabila, pengorbanan itu sudah menjadi bagian dari profesinya.
“Ini pekerjaan saya. Jadi mau tidak mau saya harus ikhlas melayani penumpang dengan sepenuh hati,” pungkasnya.(CIA)
Views: 51
















