Hamengkubuwono X Beberkan Keterikatan Sejarah Trenggalek-Jogja Terukir Sejak 1755

oleh
oleh
Hamengkubuwono X Beberkan Keterikatan Sejarah Trenggalek-Jogja Terukir Sejak 1755
Hamengkubuwono X Beberkan Keterikatan Sejarah Trenggalek-Jogja Terukir Sejak 1755

TRENGGALEK, bioztv.id – Malam puncak muhibah budaya di Trenggalek, Sri Sultan Hamengkubuwono X beberkan jika sejarah Trenggalek dan yogyakarta terukir sejak lama. Benang merah itu diantaranya bermula dari perjanjian Giyanti tahun 1755. Yaitu terpecahnya kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Surakarta dan kesultanan Yogyakarta.

Menurut Gubernur DIY, Trenggalek merupakan tanah perdikan. Artinya wilayah yang dibebaskan pajak, bahkan diperbolehkan mengelola pajak yang didapatkan karena dianggap berjasa kepada negara.  Dulunya, wilayah Kabupaten Trenggalek terbagi menjadi dua bagian. panggul dan Munjungan masuk wilayah kekuasaan Bupati Pacitan yang mengabdi kepada Kesultanan Yogjakarta. Sedangkan bagian lainnya masuk wilayah Bupati Ponorogo di bawah kekuasaan kasunanan Surakarta. Selain keterikatan sejarah, Kabupaten Trenggalek juga memiliki potensi dan bakat budaya yang beragam. Sehingga memalui momen Muhibah Budaya ini pemerintah DIY merasa perlu merajut budaya mataraman dari yogya untuk indonesia.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Trenggalek, Sunyoto menjelaskan, Keraton Yogyakarta memiliki semacam kewajiban untuk terus melestarikan budaya, utamanya budaya mataraman. Budaya ini bisa disebar luaskan ke seluruh indonesia, sehingga pada momen muhibah budaya ini, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengusung tema merajut budaya mataraman dari yogya untuk indonesia.

Sunyoto juga menambahkan, Saat ini Pemkab Trenggalek memang bertekad merajut kembali historis sejarah Trenggalek dengan Kraton Jogjakarta. Diharapkan kedekatan sejarah, kultur dan budaya Mataraman antara Trenggalek dan Jogjakarta ini, kedepannya bisa memberikan manfaat terhadap kedua daerah, khususnya sektor ekonomi.

Views: 106