TRENGGALEK, bioztv.id – Di dapur-dapur warga Kecamatan Durenan, Trenggalek, bunyi anyaman janur mulai terdengar sejak pagi. Warga merangkai daun kelapa muda dengan tangan terampil, mengisinya dengan beras, lalu merebusnya hingga padat dan putih. Ketupat-ketupat itu bukan sekadar hidangan Lebaran—mereka menjadi simbol, cerita, dan rasa yang diwariskan lintas generasi.
Di Durenan, warga tidak hanya memakan ketupat. Mereka “merayakannya”.
Dari Dakwah hingga Dapur Warga
Jauh sebelum menjadi ikon Lebaran seperti sekarang, ketupat memiliki jejak sejarah panjang di Nusantara. Masyarakat mulai mengenal tradisi ini sejak abad ke-15, seiring dakwah Sunan Kalijaga yang memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal Jawa.
Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai simbol perayaan Idul Fitri, cara sederhana namun penuh makna untuk mengajarkan nilai keikhlasan dan saling memaafkan.
Di Trenggalek, khususnya Durenan, masyarakat mengembangkan filosofi tersebut menjadi tradisi khas bernama Kupatan.
Ketupat yang “Ditunda” untuk Makna
Berbeda dari daerah lain yang menyajikan ketupat di hari pertama Lebaran, warga Durenan menunda penyajiannya hingga hari kedelapan atau H+8 Idul Fitri.
Bagi mereka, ketupat bukan sekadar makanan pembuka silaturahmi, melainkan penutup dari rangkaian ibadah.
Tradisi ini berakar dari ajaran ulama karismatik, KH Imam Mahyin, alias Mbah Mesir, pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum pada abad ke-19.
Pengasuh pesantren saat ini, KH Abdul Fattah Mu’in, menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut bermula dari laku spiritual sang pendahulu.
“Mbah kami rutin menjalankan puasa Syawal enam hari. Jadi masyarakat baru bersilaturahmi setelah itu selesai, biasanya di hari ketujuh atau kedelapan,” ujarnya.
Sejak saat itu, masyarakat menjadikan ketupat sebagai sajian utama dalam momen silaturahmi besar yang dikenal sebagai Kupatan.
Dari Satu Rumah ke Ribuan Meja
Awalnya, masyarakat hanya menyajikan ketupat di lingkungan pesantren. Namun, tradisi ini kemudian meluas ke seluruh wilayah.
Kini, hampir seluruh warga Kecamatan Durenan membuka pintu rumah mereka lebar-lebar. Siapa pun boleh datang, bahkan tanpa undangan.
Di atas meja, warga menyajikan ketupat berdampingan dengan opor, sambal, hingga urap. Aroma santan dan rempah menguar, menyambut setiap tamu yang datang.
“Kupatan di sini bukan soal meriah atau tidaknya acara, tapi bagaimana orang bisa saling bertemu dan memaafkan,” kata KH Abdul Fattah.
Filosofi dalam Anyaman Janur
Di balik bentuknya yang sederhana, ketupat menyimpan makna mendalam.
Anyaman janur melambangkan rumitnya kehidupan manusia, sementara isi beras yang berubah menjadi putih setelah dimasak mencerminkan hati yang kembali bersih setelah Ramadan.
Dalam budaya Jawa, masyarakat memaknai ketupat sebagai ngaku lepat—mengakui kesalahan.
Proses pembuatannya pun menjadi momen kebersamaan. Keluarga berkumpul, saling membantu menganyam, mengisi, hingga memasak.
Di situlah, rasa tidak hanya tercipta di lidah, tetapi juga tumbuh di hati.
Ketupat yang Menggerakkan Orang Pulang
Kupatan Durenan kini tidak hanya menjadi tradisi lokal, tetapi juga magnet budaya. Setiap tahun, ribuan orang dari berbagai kota datang untuk merasakan suasana ini.
Meski masyarakat tidak selalu menggelar arak-arakan tumpeng ketupat setiap tahun, antusiasme tetap tinggi. Jalan-jalan desa tetap dipadati, rumah-rumah tetap ramai, dan ketupat tetap menjadi pusat perhatian.
Bagi banyak orang, datang ke Durenan saat Kupatan bukan sekadar wisata kuliner, melainkan perjalanan emosional—kembali ke akar, ke tradisi, dan ke makna silaturahmi yang sesungguhnya.
Ketupat, Rasa yang Tak Pernah Usang
Di tengah gempuran kuliner modern, ketupat tetap bertahan. Masyarakat tidak hanya menghadirkannya sebagai makanan, tetapi juga sebagai identitas.
Di Durenan, ketupat menjadi bahasa tanpa kata—tentang maaf, kebersamaan, dan warisan yang terus dijaga.
“Ketupat itu sederhana, tapi maknanya dalam. Selama orang masih mau bersilaturahmi, tradisi ini akan terus hidup,” pungkas KH Abdul Fattah.
Dari dapur-dapur sederhana di Durenan, ketupat terus bercerita—tentang masa lalu, hari ini, dan harapan yang akan selalu teranyam di masa depan. (CIA
Views: 31
















