Kupatan Durenan 2026: Rahasia Tradisi ‘Menahan Rindu’ & Pesta Silaturahmi 2 Abad di Trenggalek

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id Di sebuah sudut Kabupaten Trenggalek, tepatnya di Desa Durenan, gema Idul Fitri tidak benar-benar usai pada hari pertama. Warga justru merasakan puncak kehangatan sepekan setelahnya. Mereka menahan rindu untuk saling berkunjung dan menunda tradisi halal bihalal hingga akhirnya merayakannya dalam satu momen sakral bernama Kupatan H+8.

Pada tahun 2026, warga memperingati tradisi ini pada 28 Maret 2026, tepat di hari kedelapan setelah Lebaran. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ribuan warga bersiap menyambut tamu dengan ketupat dan hidangan khas sebagai simbol syukur dan kebersamaan.

Menunda Silaturahmi, Menyempurnakan Ibadah

Berbeda dari kebiasaan umum, warga Durenan secara sadar menahan diri untuk tidak bersilaturahmi sejak hari pertama hingga hari ketujuh Lebaran. Mereka memilih menuntaskan ibadah puasa enam hari di bulan Syawal terlebih dahulu.

Tradisi ini berakar dari ajaran ulama kharismatik abad ke-19, KH Imam Mahyin, pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum.

Pengasuh pesantren saat ini, KH Abdul Fattah Mu’in, menegaskan bahwa masyarakat menjalankan tradisi ini dengan dasar kuat.

“Masyarakat di sini menjalankan puasa Syawal sejak hari kedua hingga ketujuh. Jadi mereka merasa belum lega untuk bersilaturahmi sebelum itu selesai,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tradisi ini merujuk pada hadis riwayat Imam Muslim tentang keutamaan puasa Syawal yang pahalanya setara dengan puasa setahun penuh.

Kisah Sunyi dari Pendopo Kadipaten

Sejarah tradisi ini bermula dari kisah sederhana. Pada masa lalu, Adipati Trenggalek menjemput KH Imam Mahyin untuk mendampingi kegiatan di pendopo selama enam hari setelah Lebaran.

Namun, sang kiai tetap menjalankan puasa Syawal meski berada di tengah jamuan melimpah. Keluarganya di rumah juga melakukan hal yang sama.

“Beliau tetap berpuasa dari tanggal 2 sampai 7 Syawal, meskipun berada di pendopo. Bahkan keluarganya juga mengikuti,” jelas KH Abdul Fattah.

Setelah kembali dari pendopo, warga menyambut KH Imam Mahyin dan berbondong-bondong datang untuk sowan serta meminta doa. Dari momen itulah, tradisi Kupatan mulai tumbuh sebagai bentuk syukur setelah menuntaskan puasa Syawal.

Dari Tradisi Kecil Menjadi Perayaan Massal

Awalnya, hanya segelintir keluarga pesantren yang membuka pintu bagi tamu. Namun seiring waktu, warga desa memperluas tradisi ini secara alami.

Kini, hampir seluruh warga Desa Durenan ikut berpartisipasi. Mereka membuka rumah, menyajikan ketupat lengkap dengan lauk pauk, dan menyambut tamu tanpa sekat.

“Dulu hanya keluarga pondok, sekarang seluruh desa bahkan kecamatan ikut merayakan. Tradisi ini tumbuh tanpa paksaan,” ungkap KH Abdul Fattah.

Menariknya, warga tidak selalu menghadirkan arak-arakan atau pawai tumpeng ketupat setiap tahun. Meski begitu, tradisi tetap berlangsung meriah.

Ribuan warga dari berbagai daerah tetap memadati Kecamatan Durenan. Mereka datang dari berbagai kota untuk bersilaturahmi dan merasakan langsung kehangatan Kupatan.

“Walaupun tidak selalu ada arak-arakan, masyarakat tetap ramai. Banyak pendatang sengaja datang ke sini untuk bersilaturahmi,” tuturnya.

Magnet Silaturahmi dari Berbagai Daerah

Kupatan Durenan kini berkembang menjadi magnet budaya dan religi. Pada hari pelaksanaan, jalan desa dipenuhi kendaraan, halaman rumah dipadati tamu, dan suasana hangat terasa di setiap sudut kampung.

Tradisi ini menunjukkan bahwa kekuatan budaya tidak bergantung pada kemeriahan acara, tetapi pada nilai kebersamaan yang terus dijaga.

Silaturahmi menjadi inti utama yang membuat tradisi ini tetap hidup dan semakin kuat dari tahun ke tahun.

Lebih dari Tradisi, Ini Warisan Nilai

Kupatan Durenan bukan sekadar perayaan kuliner atau agenda tahunan. Warga menjadikannya sebagai refleksi hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus dengan sesama.

Di balik anyaman janur ketupat, tersimpan filosofi tentang kesabaran, pengendalian diri, dan pentingnya menjaga hubungan sosial.

“Ini bukan sekadar makan ketupat, tetapi bentuk penghormatan kepada ulama dan ajaran yang diwariskan,” tutur KH Abdul Fattah.

Dari Durenan untuk Dunia

Kini, gaung Kupatan tidak hanya terasa di Durenan. Tradisi ini menginspirasi banyak daerah di Trenggalek hingga luar daerah dengan berbagai variasi perayaan.

Namun, esensinya tetap sama: warga menuntaskan ibadah, lalu merayakan kebersamaan. Mereka menahan diri terlebih dahulu, sebelum akhirnya membuka pintu selebar-lebarnya untuk sesama.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan individual, Durenan mengajarkan satu hal sederhana—kebersamaan terbaik lahir dari kesabaran yang dijaga bersama.(CIA)

Views: 22