TRENGGALEK, bioztv.id — Warga Kecamatan Bendungan meluapkan keluhan terkait kerusakan kronis jalan utama Trenggalek–Bendungan ke DPRD. Dalam rapat dengar pendapat (hearing), mereka mendesak pemerintah dan pihak terkait segera memperbaiki jalur yang rusak akibat lalu lintas kendaraan berat proyek Bendungan Bagong.
Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, menegaskan bahwa persoalan ini sudah berlarut-larut. Ia menuntut solusi konkret karena metode perbaikan selama ini tidak membuahkan hasil.
“Jalur itu terus rusak karena menjadi akses utama kendaraan proyek. Kalau petugas menambalnya sekarang, dalam 20 sampai 30 hari jalan itu rusak lagi,” ujar Doding.
DPRD Dorong Kontraktor Gunakan Skema CSR
Rapat tersebut menghadirkan perwakilan warga Bendungan, LSM LIRA, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Sekretaris Daerah, serta jajaran OPD terkait.
Dalam forum itu, DPRD bersama Komisi III mendorong empat kontraktor proyek Bendungan Bagong untuk ikut bertanggung jawab. DPRD meminta mereka bergotong royong memperbaiki jalan yang terdampak aktivitas proyek.
“Ada empat perusahaan rekanan di sana. Kami meminta mereka bekerja sama memperbaiki jalan secara permanen,” tegas Doding.
Doding mencatat sekitar 3 kilometer jalan mengalami kerusakan paling parah. Ia menilai perbaikan jangka panjang sudah sangat mendesak karena proyek Bendungan Bagong masih berjalan hingga 2029.
“Selama delapan tahun terakhir, kendaraan proyek menggunakan jalan tersebut. Wajar jika rekanan ikut membiayai perbaikan, misalnya melalui skema CSR,” imbuhnya.
Biaya Perbaikan Capai Rp7 Miliar Lebih
Sekretaris Daerah Trenggalek, Edy Soepriyanto, menyatakan pemerintah daerah sepakat menindaklanjuti hasil hearing. Ia menegaskan bahwa perbaikan membutuhkan perencanaan serius.
“Kami menyepakati hasil hearing ini. BBWS harus berkoordinasi dengan pimpinan mereka untuk menindaklanjuti persoalan ini,” kata Edy.
Edy menjelaskan, pemerintah membutuhkan anggaran sekitar Rp7 miliar untuk memperbaiki jalan dengan standar jalan kabupaten. Jika pemerintah ingin membangun jalan dengan kualitas khusus agar tahan terhadap beban kendaraan berat, anggaran yang dibutuhkan akan jauh lebih besar.
Tambal Sulam Tak Lagi Efektif
Doding menegaskan bahwa metode tambal sulam hanya menghabiskan anggaran tanpa hasil jangka panjang. Saat ini, petugas masih menutup lubang di titik rawan kecelakaan, tetapi langkah itu hanya bertahan sementara.
“Kalau hanya ditambal, pasti jebol lagi karena kendaraan proyek membawa muatan sangat berat,” jelasnya.
Pemerintah daerah kini mempertimbangkan skema pembiayaan jangka panjang, termasuk memasukkan anggaran perbaikan secara bertahap pada tahun mendatang.
Proyek Nasional Jangan Rugikan Warga
Meski Bendungan Bagong berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN), DPRD menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh merugikan masyarakat sekitar. Doding mengingatkan kontraktor agar ikut bertanggung jawab atas dampak yang muncul.
“Pembangunan harus tetap berjalan, tapi kontraktor juga harus menangani dampaknya. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan,” pungkasnya.
Setelah hearing tersebut, publik kini menunggu langkah nyata para kontraktor untuk segera memperbaiki jalan rusak agar kembali aman dan layak dilalui.(CIA)
Views: 7
















