Ayam Lodho Trenggalek: Dari Hidangan Sakral Ke Meja Semua Kalangan, Jejak Rasa yang Tak Pernah Pudar

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id Aroma asap tipis dari bara arang menyelinap di tengah hiruk pikuk arus mudik di Trenggalek. Di sebuah warung legendaris di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, selalu menjadi ikon rujukan kuliner. Bahkan, para pemudik merasa perjalanan pulang belum lengkap sebelum mencicipi hidangan khas: Ayam Lodho.

Kuliner ini bukan sekadar makanan. Warga menjadikannya simbol pulang, rasa rindu, dan warisan yang hidup di setiap suapan.

Transformasi: Dari Hidangan Sakral Menjadi Ikon Publik

Dahulu, masyarakat hanya menyajikan ayam lodho dalam ritual sakral seperti selamatan atau bancaan keluarga.

Perubahan besar terjadi pada 1987, ketika Muhammad Yusuf bersama istrinya membuka warung sederhana di Kedunglurah. Awalnya, mereka hanya menjual ayam botok.

Momen tak terduga kemudian mendorong lahirnya ayam lodho sebagai kuliner publik.

“Awalnya kami tidak jual ayam lodho. Sekitar tahun 1991, setelah ada liputan televisi, bapak punya ide mengenalkan lodho sebagai menu,” ujar Ayub Nualak.

Sejak saat itu, masyarakat mengenal ayam lodho sebagai ikon kuliner Trenggalek yang terus diburu hingga kini.

Rahasia di Balik Bara Arang

Keunikan ayam lodho tidak hanya terletak pada bumbu, tetapi juga pada proses memasaknya.

Pengolah terlebih dahulu membakar ayam kampung di atas bara arang sebelum memasaknya. Teknik ini menjadi kunci munculnya rasa khas yang sulit ditiru.

“Ayam kami dibakar langsung di atas bara, bukan diasap. Jaraknya dekat sekali dengan api, jadi panasnya benar-benar meresap,” jelas Ayub.

Setelah itu, juru masak mengolah ayam dalam kuah santan berbumbu rempah pedas selama lebih dari satu jam hingga bumbu meresap sempurna dan daging menjadi empuk.

Ayub juga menegaskan bahwa timnya menjaga standar kehalalan dalam setiap proses.

“Kami sangat menjaga kehalalan, mulai dari penyembelihan sampai pengolahan. Itu yang utama,” tegasnya.

Tahapan kunci yang menjaga cita rasa:

  • Pembakar membakar ayam langsung di atas bara arang untuk menghasilkan aroma smoky yang meresap hingga ke tulang
  • Juru masak memasak daging secara perlahan dalam kuah santan rempah pedas hingga empuk namun tetap berserat
  • Pengelola memastikan seluruh proses memenuhi standar halal, dari penyembelihan hingga penyajian

Nasi Gurih dan Urap: Pasangan Tak Terpisahkan

Masyarakat Trenggalek memiliki satu aturan tidak tertulis saat menyantap ayam lodho: harus menyajikannya dengan nasi gurih dan urap.

Warga mewariskan kombinasi ini secara turun-temurun sebagai satu kesatuan rasa.

“Dari zaman mbah dulu, lodho itu harus dengan nasi gurih dan urap. Kalau tidak, rasanya kurang lengkap,” kata Ayub.

Perpaduan gurih nasi, segar urap, dan pedas kuah lodho menciptakan harmoni rasa yang khas.

Dari Meja Bangsawan ke Semua Kalangan

Cerita yang berkembang di masyarakat menyebut ayam lodho pernah menjadi hidangan kalangan bangsawan pada masa kerajaan. Kini, semua kalangan bisa menikmatinya.

Dengan harga yang terjangkau, kuliner ini menjadi favorit banyak orang.

“Dulu katanya makanan bangsawan. Sekarang Alhamdulillah semua orang bisa menikmati, dan kami bangga bisa melestarikan,” ungkap Ayub.

Magnet Kuliner Pemudik di Bumi Menak Sopal

Saat musim mudik, para pemudik menjadikan warung ayam lodho sebagai tujuan utama. Mereka datang untuk makan sekaligus bernostalgia, mengulang kenangan masa kecil dan merasakan kembali hangatnya kampung halaman.

Ayam lodho, pada akhirnya, bukan hanya soal makanan. Warga menjadikannya identitas dan cerita yang terus berpindah dari dapur ke dapur, dari generasi ke generasi.

Bagi siapa pun yang pernah mencicipinya, ayam lodho selalu punya cara untuk memanggil pulang. (CIA)

Views: 31