Diinisiasasi Mahasiswa, Festival Permainan Tradisional di Trenggalek Hidupkan Kegembiraan Anak

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Di tengah gempuran game digital dan layar gawai yang kian mendominasi dunia anak-anak, suasana berbeda justru terasa di Desa Widoro, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek. Jumat pagi itu, puluhan pelajar TK dan SD tampak riang bermain dan bercengkrama dalam Festival Permainan Tradisional.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) dan Universitas Negeri Malang menyelenggarakan festival ini.

Bertempat di Saung Ledokan, tawa ceria anak-anak mewarnai setiap sudut lokasi. Mereka antusias mengikuti beragam permainan klasik seperti engklek, dakon, ular naga, hingga lomba mewarnai. Meskipun permainan terlihat sederhana, antusiasme mereka luar biasa, berlari, melompat, dan bermain penuh semangat tanpa teralihkan oleh ponsel.

“Kegiatan ini kami gelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, sekaligus sebagai upaya mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda,” ujar Muhammad Fardhan Kusuma Atmaja, Koordinator Desa KKN Widoro UIN SATU.

Ia menambahkan, festival ini juga bertujuan menumbuhkan kembali nilai-nilai sosial, kerja sama, serta ketangkasan fisik pada anak-anak yang kini mulai hilang akibat ketergantungan pada teknologi digital.

Menurut Fardhan, lebih dari 100 peserta terlibat dalam festival ini. Mereka berasal dari berbagai lembaga pendidikan di Desa Widoro, mulai dari SDN 1, SDN 2, SDN 3, Madrasah Ibtidaiyah, PAUD, hingga taman kanak-kanak.

“Permainan tradisional tidak hanya melatih otot dan motorik anak, tapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Mereka menjadi lebih aktif, ceria, dan memiliki semangat kebersamaan,” imbuh Fardhan.

Hal itu Fano (7), salah satu peserta asal SDN Widoro, amini. Ia mengaku senang bisa bermain engklek bersama teman-temannya. “Baru kali ini main kayak gini bareng-bareng. Di rumah enggak ada teman buat main begini,” ucapnya polos.

Begitu pula dengan Jovan, pelajar lain dari Desa Widoro. Ia mengaku permainan tradisional jauh lebih seru karena bisa bergerak bebas dan tertawa bersama teman-teman.

Festival ini seolah menjadi oase bagi anak-anak Trenggalek di tengah padatnya rutinitas sekolah dan dominasi dunia digital. Para mahasiswa berharap, kegiatan semacam ini bisa menjadi inspirasi untuk menghidupkan kembali permainan-permainan rakyat di berbagai daerah, demi tumbuh kembang anak yang lebih seimbang secara fisik, emosional, dan sosial.

Dengan membumikan kembali permainan tradisional, anak-anak Desa Widoro membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tak selalu hadir di balik layar, melainkan dari keringat, tawa, dan kebersamaan.(CIA)

Views: 52