Wujudkan Otonomi Desa, Mahasiswa ITB AD Pacu Penguatan Kelembagaan Desa Mantikole

oleh
oleh
Wujudkan Otonomi Desa, Mahasiswa ITB AD Pacu Penguatan Kelembagaan Desa Mantikole
Wujudkan Otonomi Desa, Mahasiswa ITB AD Pacu Penguatan Kelembagaan Desa Mantikole

SIGI, bioztv.id – Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) kembali membawa dampak positif bagi masyarakat desa. Melalui programnya, Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta, Rahmansyah, pacu pengembangan kelembagaan desa di Desa Mantikole, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Proyek independen yang diusung Rahmansyah ini bertajuk “Penguatan Kelembagaan Desa dalam Mewujudkan Otonomi Desa Mantikole”. Desa Mantikole sendiri dikenal sebagai salah satu desa di Kecamatan Dolo Barat dengan mayoritas penduduknya yang bergantung pada sektor pertanian, perkebunan, dan pariwisata. Desa yang berbatasan langsung dengan pegunungan Sulawesi Barat ini seringkali menghadapi tantangan dalam hal kelembagaan desa.

“Meski mendapatkan alokasi Dana Desa (ADD) yang cukup besar setiap tahunnya—terhitung mencapai satu miliar rupiah kelembagaan desa masih perlu peningkatan,” Kata Rahmansyah.

Menurut Rahmansyah, kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya, profesionalisme sumber daya aparatur yang rendah, kurangnya kontrol masyarakat terhadap birokrasi, serta penataan sumber daya aparatur yang belum sesuai dengan kebutuhan kelembagaan. Sementara itu, Kelembagaan desa yang kuat merupakan kunci dalam mewujudkan otonomi desa yang sebenarnya.

“Tanpa itu, desa akan terus bergantung pada bantuan dari pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat,” ungkap Rahmansyah.

Untuk mengatasi masalah ini, Rahmansyah bersama timnya menawarkan sejumlah solusi yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan Desa Mantikole. Salah satunya adalah dengan mengadakan sosialisasi program yang bertujuan untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa.

“Selain itu, juga dilakukan pengembangan kapasitas aparatur desa melalui pelatihan dan bimbingan teknis,” imbuh Rahmansyah.

Melalui pelatihan ini, Rahmansyah berharap aparatur desa dapat lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Hal ini penting agar desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga bisa menjadi pelaku utama dalam proses pembangunan,” jelas Rahmansyah.

Disisi lain, program yang diusung Rahmansyah ini juga menekankan pentingnya pembangunan partisipatif. Artinya, masyarakat dilibatkan dalam setiap tahap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Pasalnya, tingkat partisipasi masyarakat adalah kunci suksesnya pembangunan.

“Ketika masyarakat terlibat, mereka akan memiliki rasa memiliki terhadap program-program yang dijalankan, sehingga pelaksanaannya akan lebih efektif dan berkelanjutan,” tambahnya.

Melalui program yang digagas ini, objek  berharap tidak hanya mampu memperkuat kelembagaan desa, tetapi juga meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Dengan begitu, Desa Mantikole bisa lebih mandiri dalam mengelola sumber daya dan potensi lokalnya. Dampak lainnya, warga bisa mempertahankan nilai-nilai budaya dan tradisi yang menjadi identitas desa.

“Ini akan memicu kepercayaan masyarakat pada pemerintahan desa dan pada akhirnya menciptakan sinergi yang positif antara pemerintah desa dan warganya,” tutup Rahmansyah.

Melalui program ini, diharapkan Desa Mantikole dapat menjadi model bagi desa-desa lain di Kabupaten Sigi. Khususunya dalam upaya mewujudkan otonomi desa yang sesungguhnya, di mana desa memiliki kemandirian dalam mengatur dan mengelola urusannya sendiri.

“Jika kelembagaan desa kuat, maka pelayanan kepada masyarakat akan semakin baik,” pungkasnya.(MMA)

Views: 7